Stigma Masih Melekat Bagi Pasien Terapi Rumatan Metadon

0
331
ilustrasi stigma pada pasien perogram terapi rumatan metadon (kuldesak)
- Advertisement -

Kuldesak, Jakarta– Insiden diturunkannya penumpang Batik Air di Bandar Udara Kuala Namu, Medan, karena menggunakan obat penenang menjadi perhatian. Pasalnya, penumpang berinisial AW tersebut merupakan salah satu pasien dalam Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM).

Terkait hal tersebut Koordinator Nasional Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI), Edo Agustian , mengatakan apa yang dialami AW dapat menjadi bukti bahwa masih adanya stigma bagi mantan pecandu yang sedang menjalani pemulihan. Adanya stigma ini justru membuat risiko pasien PTRM untuk kembali menggunakan narkoba dari jalanan meningkat.

“PTRM ini adalah program nasional yang sudah berjalan sejak tahun 2003. Jadi mereka yang tergabung dalam PTRM ini adalah pasien yang sedang berupaya untuk pulih. Bukan kriminal,” tutur Edo dalam konferensi pers di Ke:Kini, Jalan Cikini Raya, Cikini, Jakarta Pusat.

PTRM adalah program pemulihan adiksi bagi pengguna narkoba jarum suntik (penasun) yang mengganti putaw dengan metadon, versi sintetis dari putaw. Program ini bertujuan untuk mengurangi risiko bahaya fatal seperti penularan HIV dan Hepatitis C yang memiliki risiko kejadian tinggi pada penasun.

Metadon yang digunakan dalam PTRM diawasi dengan ketat pemberiannya, penggunaannya dan dosisnya. Dengan begitu, pasien PTRM dapat menghindari risiko bahaya jarum suntik sekaligus menjauhi narkotika ilegal yang dibeli di jalanan.

Dikatakan Edo, PTRM sudah dilaksanakan di lebih dari 150 pusat pelayanan kesehatan di Indonesia, dengan total pasien berjumlah sekitar 5.000 orang. Menyamakan pasien PTRM dengan para pecandu narkotika lainnya adalah sebuah kesalahpahaman dan akan merugikan orang tersebut.

“Pasien PTRM ini akhirnya bisa kembali berfungsi di masyarakat, kembali kepada keluarga, dan bekerja. Menyebut mereka sebagai pecandu narkoba akan menimbulkan kesalahpahaman yang membuat mereka kembali dijauhi keluarga dan tidak diterima di masyarakat,” tutupnya, seperti yang tertulis dalam detik.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here