Menurut Sebuah Studi Terbaru, Ini Efek Positif Kopi Bagi ODHA

0
932
Efek Positif Kopi Bagi ODHA. (foto Via rumahmesin.com)
- Advertisement -

Kuldesak- Orang dengan HIV AIDS  maupun hepatitis C, diperbolehkan untuk meminum tiga atau lebih kopi dalam sehari. Pasalnya, terdapat sebuah penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa mengkonsumsi kopi tiga cangkir lebih dalam sehari memiliki tingkat ketahanan hidup 50 persen lebih baik.

Sekitar seperempat pasien HIV juga memiliki hepatitis C (HCV), yang menyerang hati. Kopi dikenal untuk membantu melindungi hati, dan bertindak sebagai antiinflamasi. Demikian dikutip dari laman Daily Mail, Kamis (28/9/2017).

Penelitian tersebut, dari French National Institute of Health and National Agency for AIDS and Hepatitis Research, menemukan bahwa pasien yang mencari pengobatan untuk HCV mereka, minum setidaknya tiga cangkir kopi setiap hari, dan tidak merokok jauh lebih baik daripada rekan mereka.

Penelitian terbaru terkait kopi dengan harapan hidup yang lebih baik secara umum, menunjukkan bahwa konsumsi kopi harus menjadi bagian dari makanan sehat. Terlebih, Pasien yang terinfeksi HIV lebih rentan terhadap infeksi lain seperti, HCV, yang menyerang hati, meningkatkan risiko penyakit hati dan kanker hati.

Orang yang terinfeksi HIV dan hepatitis C yang minum tiga cangkir kopi setiap hari memiliki tingkat ketahanan hidup 50 persen lebih tinggi daripada mereka yang minum lebih sedikit, menurut sebuah studi baru.

Diet sehat penting untuk pencegahan dan perawatan hati, yang bisa mengembangkan pembangun lemak jika sedang mencoba mengolah terlalu banyak zat tertentu, seperti gula.

Di Amerika Serikat, sekitar setengah dari semua pasien yang terinfeksi HIV dari penggunaan bersama jarum suntik juga didiagnosis dengan HCV, yang dapat ditularkan dengan cara yang sama.

Perawatan untuk HCV dan HIV telah meningkat pesat, memperpanjang harapan hidup bagi pasien yang terinfeksi salah satu atau kedua penyakit tersebut sampai usia yang hampir normal. Hepatitis C bahkan bisa disembuhkan pada kebanyakan pasien.

Namun, kedua infeksi tersebut menempatkan orang pada risiko penyakit mematikan yang lebih tinggi. Bahkan ketika HCV disembuhkan, HIV menyebabkan ‘proses penuaan yang dipercepat,’ studi tersebut mengatakan, hal itu dapat menyebabkan masalah jantung dan kerusakan hati yang berlanjut.

Namun, dalam penelitian terhadap 1.028 pasien, mereka yang rutin mengonsumsi kopi, cenderung mengurangi infeksi hati.

Sayangnya, tidak ada penjelasan lebih jelas apakah kopi itu sendiri atau kafeinnya yang memiliki efek menguntungkan bagi hati, namun kopi tampaknya membantu mengurangi enzim yang diproduksi secara berlebihan oleh hati yang tidak sehat, dan memperlambat perkembangan jaringan parut yang terjadi pada hati yang sakit.

Menurut Asosiasi Penelitian Kajian Penelitian Hati Eropa (European Association for the Study of the Liver), kopi juga dapat membantu mencegah hati agar tidak menjadi resisten terhadap insulin.

Dalam studi ini, penulis utama Dr Maria Patrizia Carrieri dari Universitas Aix Marseille di Marseille, Prancis, mengatakan bahwa subjek yang meminum lebih dari tiga cangkir kopi memiliki tingkat ketahanan hidup yang lebih baik terlepas dari apakah kopi tersebut berkafein atau tidak.

Namun, kafein biasanya merupakan biang keladinya efek kesehatan dari kopi yang lebih negatif, seperti kegelisahan atau masalah tidur. Kopi juga adiktif, jadi mencoba untuk menghilangkan kebiasaan meminum kopi, bisa mengakibatkan gejala kecanduan seperti sakit kepala.

Yang terpenting, efek positif dari kopi dapat dirasakan jika tidak menambahkan gula atau pun pemanis ke dalam kopi.

Pasien memiliki tingkat kelangsungan hidup 80 persen lebih baik jika mereka minum tiga atau lebih cangkir kopi sehari dan telah sembuh dari HCV. Pasien yang masih menderita HIV dan HCV dan minum tiga atau lebih cangkir masih memiliki tingkat ketahanan hidup 50 persen lebih baik daripada mereka yang tidak minum kopi lebih sedikit.

Studi ini juga melacak status merokok pasien dan menemukan bahwa merokok tidak meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup pasien. Meski kurang berkorelasi kuat, faktor gaya hidup seperti memiliki pasangan tetap juga terkait dengan tingkat ketahanan hidup yang lebih baik.

Dr Carrieri mengatakan bahwa studinya adalah sebuah pengingat bahwa ‘intervensi efektif terhadap perilaku yang lebih sehat perlu dipromosikan dalam populasi HIV-positif, bahkan setelah penyembuhan HCV,’ untuk memberi kesempatan terbaik untuk terus hidup bagi ODHA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here