Kuldesak Bersama Para Stakeholder Helat Pertemuan Guna Menilik Program HIV/AIDS dan Napza Tahun 2017 di Kota Depok

0
304
Kuldesak Bersama Para Stakeholder Helat Pertemuan Guna Menilik Program HIV AIDS dan Napza Tahun 2017 di Kota Depok (dok.kuldesak)
- Advertisement -

Kuldesak-Sejak ditemukan di Bali pada tahun 1987, kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyebabkan penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) terus bertambah dan menyebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Peningkatan kasus terutama terjadi pada kelompok beresiko tinggi, antara lain pekerja seks komersial dan pengguna Napza dengan jarum suntik.

Mereka yang terinfeksi HIV/AIDS sudah terdapat di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Kebanyakan dari mereka terinfeksi di usia produktif, yaitu 15-29 tahun. Padahal, pengurangan kasus HIV/AIDS merupakan salah satu target Millennium Development Goals (MDGs).

Fakta menunjukkan, Papua tidak lagi menjadi provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS paling banyak, meski untuk prevalansi per penduduk masih yang tertinggi. Justru di Jawa Barat (Jabar) jumlah kasus infeksi HIV/AIDS menduduki peringkat pertama. Jabar mencapai 3.213 kasus, disusul DKI Jakarta 2.810 kasus, Jawa Timur 2.753 kasus, kemudian keempat Papua dengan 2.605 kasus (kemenpppa.go.id)

Sehingga, guna menilik Program HIV/AIDS dan Napza Tahun 2017 di Kota Depok, Kuldesak menghelat pertemuan yang bertajuk ‘Audiensi dan Dengar Pendapat Program HIV/AIDS dan Napza di Kota Depok’ di Ruang Rapat Bersama Lt. 1 Gedung DIBALEKA 2, Balaikota Depok.

Pertemuan ini turut mengundang Walikota Depok, DPRD Kota Depok, Kepala Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Komisi Penanggulangan Aids Kota Depok, Sekretaris Daerah Kota Depok, Kepala Dinas Sosial, Direktur RSUD Depok, Dokter CST RSUD Depok, Direktur RS Sentra Medika, serta Puskesmas Satelit ARV Kota Depok.

Selain dari intansi pemerintahan, kuldesak juga turut mengundang jaringan yang berkaitan dengan program HIV/AIDS dan Napza. Seperti, IU Female Plus, Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), Jaringan GWL – INA, Jaringan OPSI, Jaringan Indonesia Positif (JIP), Jaringan IPPI, CCM, Indonesia AIDS Coalition, Badan Narkotika Nasional,Polres Depok, Yayasan KAKI Fundation, KDS Hitam Putih serta KDS DEMOU.

Seperti yang diketahui, kasus HIV/AIDS di Indonesia bagaikan fenomena gunung es. Jumlah mereka yang terinfeksi dan melapor hanyalah sebagian kecil dari kasus sesungguhnya terjadi. Bahkan, ada estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia sebenarnya telah mencapai 270.000 penderita.

Namun tidak bisa dipungkiri telah banyak kemajuan yang dicapai dalam hal penatalaksanaan program HIV/AIDS dan NAPZA. Kemajuan seperti pengobatan dan pemeriksaan CD4 secara gratis

yang diberikan pemerintah dan pengelola program HIV/AIDS kepada pasien dengan HIV telah banyak membantu menunjang kesehatan teman-teman ODHA, khususnya di Kota Depok.

Terkait hal tersebut, Samsu Budiman selaku Direktur Organisasi Kuldesak menyayangkan, bahwasanya dengan adanya mesin CD4 yang telah diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, ternyata mesin tersebut belum dapat di akses oleh teman-teman ODHA di wilayah tersebut.

“Bahkan keberadaan Puskesmas Satelit juga sangat dirasa belum berjalan maksimal sehingga menjadi salah satu kendala nyata. Sehingga pengobatan dinilai menjadi kurang efektif lantaran keterbatasan jadwal layanan yang tersedia.” Ungkap Samsu.

“Belum lagi alur rujukan yang masih terjadi kesimpang-siuran antara layanan kesehatan, petugas lapangan dan petugas pendamping yang dinilai masih sangat perlu diperbaiki dilapangan, demi berjalannya simbiosis mutualisme dan kerjasama yang baik satu sama lain, sehingga jelas siapa melakukan apa dan saling meringankan beban kerja dilapangan.“ Jelas Samsu lebih lanjut.

Sehingga sangat diharapkan pihak-pihak terkait dapat mengelaborasi guna memperbaiki sistem pelayanan yang saat ini dirasa kurang baik bagi pasien yang mengakses atau terapi pengobatan ARV khususnya di Kota Depok.

Mengingat krusialnya program penanggulangan AIDS di Indonesia khususnya di Kota Depok, seharusnya saat ini sudah bisa lebih baik dalam pemberian layanan kesehatan dasar kepada masyarakat baik terhadap pasien khusus maupun pasien umum lainnya, terlebih lagi dilihat dari letak goegrafis Kota Depok yang sangat dekat Ibu Kota Negara Indonesia.

“Maka dengan ini kami mendorong pemerintah pusat untuk segera membuat Peraturan Daerah (PERDA) terkait HIV/AIDS dan Napza.“ ujar Samsu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here