Terlalu, Hepatitis Masih Picu Diskriminasi di Kalangan Pekerja

0
467
Diskriminasi pada mereka yang terinfeksi Hepaitis. (Ilustrasi)
- Advertisement -

Kuldesak- Mereka yang terinfeksi hepatitis kerap menerima diskriminasi di tempat kerja. Cukup banyak yang tidak diterima bekerja, tidak bisa naik pangkat, atau tidak diterima menjadi pegawai tetap bila hasil test kesehatan menunjukkan hepatitis B atau C positif.

“Dalam satu tahun, rata-rata bisa ada 10 keluhan diskriminasi di tempat kerja. Banyak yang keluarganya merasa takut dikucilkan, karena takut dianggap sebagai sumber penularan penyakit,” ujar Marzuita dari Komunitas Peduli Hepatitis (KPH), seperti yang tertulis dalam portal berita VIVA.co.id, Senin, 2 Oktober 2017.

Diskriminasi tersebut hadir lantaran hepatitis dapat memicu penyakit berbahaya seperti sirosis yang akhirnya membuat individu menjadi tidak produktif. Padahal, perlu waktu 20 – 30 tahun untuk jadi sirosis, di mana hati mengecil, keras dan fungsinya menurun, hingga akhirnya bisa timbul kanker hati.

“Sirosis muncul akibat peradangan yang terjadi terus menerus, peradangan terjadi karena tubuh tidak mampu menghilangkan infeksi secara tuntas. Perlu dipahami, tidak semua infeksi hepatitis menimbulkan keluhan dan menjadi kronis,” ujar Ketua Komisi Ahli Hepatitis dari Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH.

Rino juga menegaskan, tidak semua jenis hepatitis perlu diobati. Menurutnya, ada yang perlu dimonitor secara rutin, dan ada juga yang butuh mengonsumsi obat untuk mencegah memburuknya kondisi organ hati.

“Untuk yang perlu diobati, memang belum ada obat yang bisa menghilangkan virus, tapi sudah ada obat yang bisa mencegah memburuknya penyakit hati. Obat untuk menekan virus mungkin perlu diminum dalam jangka panjang atau bahkan seumur hidup. Tapi bukan hanya hepatitis B yang minum obat seumur hidup, penyakit lain seperti hipertensi, diabetes atau kolesterol pun demikian,” lanjut Rino.

Terkait hal tersebut, hadir kabar baik untuk pengobatan hepatitis C. Karena, sudah ditemukan obat DAA (direct-acting antiviral) yang bisa menghilangkan virus dengan angka keberhasilan hingga 98 persen.

“Jadi, apa yang ditakutkan? Yang jadi masalah adalah bila tidak ketahuan, sehingga tidak diobati dan penyakit jadi memburuk. Tapi kalau ketahuan, bisa dikontrol dan diobati,” tandas Dr. dr. Rino.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here