Ibu Hamil dengan HIV Positif, 3 Obat ini Yang Mesti Dikonsumsi

0
1099
sejak ibu hamil diketahui HIV positif, ia harus mium obat untuk menghindari transmisi vertikal terhadap janin. (Ist)
- Advertisement -

Kendala yang menjadi problema dalam persalinan dan menyusui, ketika dokter menegakkan diagnosis bahwa sang ibu saat hamil positif terinfeksi HIV, bagaimana nasib janin yang dikandungnya? Hal tersebut dibahas dalam diskusi “Aturan Main Donor ASI” bersama Forum Ngobras di Jakarta, pekan ini. Hadir sebagai narasumber, Ketua Satuan Petugas ASI IDAI dr. Elizabeth Yohmi SpA, IBCLC.

Elizabeth menerangkan, sejak ibu hamil diketahui HIV positif, ia harus mium obat untuk menghindari transmisi vertikal terhadap janin. Tujuan akhirnya, agar penularan dari ibu ke anak mengecil. “Obat yang diberikan adalah antiretrovirus yakni Zidovudine, Nevirapine, dan Lamivudine. Dengan mengonsumsi ketiga obat ini penularannya berkurang hingga 1 persen,” urai Elizabeth seperti yang tertulis pada portal tabloidbintang.com, Sabtu (14/10/2017).

Menjelang melahirkan, ibu disarankan menjalani cek kesehatan PCR (Polymerase Chain Reaction) dan RNA untuk mendeteksi HIV di tubuhnya. Jika hasilnya, tidak terdeteksi (bukan berarti nol) oleh mesin, maka kondisinya aman. Namun, ibu harus tetap minum obat sampai melahirkan. Bayi yang sudah lahir juga harus diberi obat.

“Pemberian obat untuk ibu hamil diberikan begitu ia ketahuan positif HIV. Hamil muda pun langsung kita berikan obatnya. Aman, kok. Jika ibu dengan HIV ingin menyusui boleh, tapi harus dicek lagi kondisi kesehatannya. Dan saat menyusui, ia tetap mengonsumsi ketiga jenis obat tadi seumur hidupnya. Sementara anaknya, diberi 1 macam obat sampai usia 6 minggu,” lanjut dia.

Elizabeth menambahkan, “Pada usia paling lambat 6 minggu, bayi harus dicek kondisinya apakah tertular HIV atau tidak. Hasil tes akan keluar 2 sampai 4 minggu kemudian. Sembari menunggu hasilnya, si bayi diberikan obat pencegahan lainnya.”ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here