Tidak Hanya Pengobatan Medis, Anak-Anak yang Terinfeksi Penyakit Berat Butuh Asuhan Paliatif

0
331
pengobatan secara medis ini juga harus ditunjang dengan asuhan paliatif. (Ilustrasi)
- Advertisement -

Saat si kecil sedang sakit, tak dapat dipungkiri yang dipikirkan para orangtua beserta keluarga hanyalah bagaimana caranya bisa sembuh. Terlebih lagi jika sang anak tersebut menderita penyakit berat seperti kanker ataupun HIV Aids. Di mana biasanya para penderita penyakit berat ini memang memiliki tingkat kesembuhan yang kecil.

Namun tahukah Anda, bahwa sebenarnya untuk merawat anak penderita kanker atau AIDS ataupun penyakit berat lainnya, pengobatan secara teknikal medis tidaklah cukup, terlebih lagi jika usia sang anak tersebut sudah diprediksikan tidak akan lama lagi. Di mana pengobatan secara medis ini juga harus ditunjang dengan asuhan paliatif, dalam merawat anak-anak penderita penyakit berat tersebut.

Asuhan paliatif sendiri adalah suatu spesialisasi ilmu medis bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit berat beserta keluarganya. Di mana asuhan paliatif ini mengatasi nyeri dan gejala, serta menyediakan dukungan emosional dan sosial agar pasien dapat hidup terbebad dari rasa nyeri agar bisa menikmati kualitas hidup terbaik.

Peranan akan asuhan paliatif ini sendiri, disebutkan bahwa sebenarnya sudah harus berperan sejak pasien didiagnosa oleh dokter. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Edy Setiawan Tehuteru, selaku Dokter Spesialis Onkologi Anak Rumah Sakit Dharmais.

“Asuhan paliatif itu semestinya memang sejak pasien didiagnosa, sudah harus berperan sejak ini. Tidak selamanya hanya diterapkan pada pasien yang sudah berada di ujung akhir hidupnya. Namun sayangnya masyarakat awam masih merasa takut, takut anaknya jika dimasukkan ke dalam perawatan paliatif,” papar dr. Edy Setiawan Tehuteru seperti yang tertulis dalam portal okezone.com, Jumat (13/10/2017).

Lebih lanjur dr. Edi menambahkan bahwa sebaiknya masyarakat jangan terlebih dahulu berfikiran negatif terhadap asuhan paliatif ini. Sebab, pada dasarnya asuhan paliatif ini bertujuan untuk mempersiapkan pasien meninggal tanpa rasa sakit dan kesedihan, atau dengan kata lain kematian yang berkualitas.

“Istilahnya itu prepare child die with dignity, mempersiapkan bagaimana agar anak ini ketika berpulang, ia meninggal dengan bermartabat. Salah satu kasusnya seperti pasien saya, Nara kala itu yang hanya punya keinginan untuk bersekolah. Maka dari itu, saya sebagai dokternya, memberitahukan kondisi Nara kepada pihak sekolah, kurang lebih menjelaskan pada pihak sekolah bahwa sebisa mungkin Nara merasa bahagia bersekolah, sebab belum tentu keesokan harinya ia masih bisa hadir di sekolah,” tambahnya.

Dengan penerapan asuhan paliatif sebagai pendampingan terhadap anak-anak yang sakit keras, kurang lebih diharapkan bisa memberikan pemahaman pada keluarga pasien bahwasanya tempat terbaik untuk anak, pasien tersebut adalah di rumah. Bukan di ruang ICU ataupun kamar bangsal rumah sakit.

Penerapan asuhan paliatif ini sendiri terdiri dari dua metode, yakni asuhan paliatif rawat rumah (penanganan nyeri dan gejala serta dukungan psikososial dan spiritual bagi pasien dan keluarga) yang ditujukan pada anak usia 0-18 tahun dengan HIV atau kanker, lalu ada juga pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan rumah sakit, tenaga kesehatan puskesmas, mahasiswa keperawatan, serta relawan komunitas.

Sementara itu, Majelis Kesehatan Dunia atau WHO sendiri sudah menerbitkan resolusi tentang asuhan paliatif pada 2014 lalu, menyatakan bahwa asuhan paliatif wajib tersedia bagi semua yang hidup dengan penyakit berat. Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa demi mencapai kualitas hidup, rasa nyaman, dan martabat manusia, setiap orang perlu mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan mereka yang disesuaikan dengan tiap individu dan budaya.

Namun sayangnya, seperti yang dituturkan oleh Kartika Kurniasari sebagai CEO Yayasan Rumah Rachel-pelopor asuhan paliatif di Indonesia, dari sekian banyak,kurang lebih ratusan ribu anak yang hidup dengan penyakit berat di Indonesia, hanya sedikit yang mempunyai akses akan asuhan paliatif ini.

“Diperkirakan kurang dari satu persen dari hampir 700.000 anak-anak Indonesia yang hidup dengan penyakit berat inilah, yang bisa mengakses asuhan paliatif, sementara anak-anak lainnya terus hidup dalam kesakitan,” ungkap Kartika dalam kesempatan yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here