Generasi Millennial Bergerak, Bangkitkan Kewirausahaan di Bidang Sosial

0
953
Kuldesak membuka unit usaha dengan mendirikan CV. Samudra Mitra Perkasa yang bergerak dibidang perdagangan umum dan jasa. (Ilustrasi)
- Advertisement -

Belakangan hadir sebuah pandangan umum yang selalu menggelitik bahwa nilai-nilai patriotik dan nasionalisme telah hilang dan luntur dari generasi muda yang akrab disebut sebagai generasi Millennial. Sebuah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1980-an hingga 2000. Bertumbuh di era pergantian abad menjadikan anak-anak muda tersebut mengalami sebuah transformasi gaya hidup yang drastis, terutama sejak dikenalnya pemanfaatan teknologi.

Mereka yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital yang cukup pesat, naluri digitalisasi seakan sudah tertanam sejak dalam kandungan. Tidak heran, generasi milenial merupakan generasi paling cepat belajar dan beradaptasi terhadap hampir segala bentuk inovasi teknologi digital.

Bukan lantaran cemas terhadap tingkat kecerdasan atau ke-melek-an mereka menghadapi inovasi teknologi digital. Namun, sorot tajam mata yang jauh menatap masa depan menjadikan generasi milenial tidak adil menatap sejarah masa lalu. Hidup adalah meraih “hidup” di masa depan. Masa lalu bersama ornamen sejarah yang tua dan kuno menjadi tali temali yang menyerimpung kaki saat berlari.

Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang begitu pesat,  potensi degradasi akan nilai-nilai budaya, adat serta kebiasaan gotong royong saling membantu di kehidupan sosial masyarakat Indonesia kian mencuat.

Seperti dilansir oleh buzzfeed dalam artikel berjudul “The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend”, masyarakat urban berusia muda yang baru bekerja banyak menghabiskan gajinya untuk tampil “kekinian” hingga menghadirkan gaya hidup anak muda yang cenderung hedonis hingga sudah menjadi rahasia umum, mereka memiliki cara tersendiri untuk meluapkan ekspresi mereka hingga berpotensi  melebarkan sayap permasalahan kesejahteraan sosial seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya maupun politik.

Disatusisi, balutan semu hedonis yang nyata tersaji dimata, berbanding terbalik dengan realita yang ada. Pemerataan tingkat pendidikan secara global masih dirasa sangat minim. Hal ini tentunya memiliki efek domino di bidang perekonomian yang kian tidak  stabil, nilai-nilai budaya serta kearifan lokal semakin pudar dimakan zaman dan angka kemiskinan merangkak naik.

Lantas, bagaimana peran negara sebenarnya? Indonesia telah mengklaim kemerdekaan sejak 72 tahun lalu. Pada saat itu, para pendiri bangsa ini mempunyai cita-cita agar warga negaranya sejahtera, mandiri dan disegani oleh bangsa-bangsa lain didunia. Sayang, kenyataannya Indonesia masih dianggap negara bagian dunia ketiga yang notabene hanya menjadi negara pelengkap dan terhimpit negara-negara besar yang menguasai dunia.

Realitas di Indonesia yang terjadi pada saat ini, apa yang dikatakan sektor publik atau menjadi kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi dengan istilah “jauh panggang dari api”. Rakyat tidak mendapat hak untuk kebutuhan akan hidupnya, sehingga banyak kesenjangan antara orang besar dan orang kecil atau orang kaya dengan orang miskin. Terbukti banyaknya orang yang tidak sekolah, bertambahnya orang miskin, dan angka pengangguran yang semakin tinggi. Tak pelak, pemerintah pun dinilai gagal mensejahterakan rakyatnya.

Terkait hal tersebut, sebagai warga negara yang baik sudah sepantasnya kita bersama membangun bangsa ini secara bergotong royong untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Kita tidak boleh tinggal diam dan hanya bisa teriak-teriak di media sosial, saling menjatuhkan sesama anak bangsa yang memecah rasa persatuan dan kesatuan. Saatnya kita membangun bangsa ini kembali dengan semangat gotong royong, ciptakan peluang usaha dan bantu pemerintah menyelesaikan masalah negara ini. Sering penulis bertanya “apa yang sudah kita lakukan buat bangsa kita tercinta ini dalam mengisi kemerdekaan yang hakiki?”.

Rene Suhardono, selaku penulis buku sekaligus seorang social entrepreneur menuturkan bahwa sebagai anak bangsa kita harus dapat membangun negeri ini maju dalam semua hal dan banyak cara tentunya untuk mencapainya, salah satunya dengan cara membangun gerakan kewirausahaan sosial atau lebih trennya social entrepreneurship yang mempunyai ide dasar untuk menuntaskan problem sosial secara berkelanjutan dengan cara bisnis.

“Supaya bantuan itu sustain (berkelanjutan) harus didukung bisnis. Tetap mencari profit, tapi economic value-nya enggak terlalu banyak, tapi lebih banyak ke social value-nya, “jelas Rene, dalam acara jumpa pers “Kick Off IDEAFEST 2015” di Jakarta, Rabu (1/4/2015).

Kemandirian sebuah bangsa bisa dilihat dari tingkat pereonomiannya yang stabil, rakyatnya sejahtera, tingkat pengangguran minim dan majunya dunia usaha baik kecil maupun besar. Contoh praktek kewirausahan sosial tersebut sedang coba untuk dibangun dan direalisasikan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Kuldesak (Kumpulan Dengan Segala Aksi Kemanusiaan) yang bergerak diisu kemanusiaan khususnya dibidang pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS dan Napza serta isu sosial kemasyarakatan lainnya.

CV. Samudra Mitra Perkasa

Kuldesak membuka unit usaha dengan mendirikan CV. Samudra Mitra Perkasa yang bergerak dibidang perdagangan umum dan jasa. Untuk tahap pertama lebih kepada produksi bahan kimia yang diolah menjadi produk untuk kebutuhan usaha laundry seperti deterjen, pelembut, pengharum dan lain-lain. Tidak lupa untuk kebutuhan rumah tangga seperti sabun pencuci piring, sabun cuci tangan, karbol juga sabun untuk mencuci kendaraan.

Hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk kebutuhan program sosial yang ada di Kuldesak. Kelebihan lainnya adalah membuka lapangan pekerjaan untuk Orang Dengan HIV/AIDS, Korban Napza, Warga Bina Pemasyarakatan dan masyarakat umum yang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi pengusaha dilatih dan disalurkan untuk menjadi distributor maupun agen. Saat ini gerakan kewirausahaan sosial patut dicontoh agar generasi muda yang akrab dikenal sebagai generasi millennial, mampu bersaing dalam dunia usaha sekaligus dapat membantu permasalahan sosial dilingkungan. (OmBuds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here