Hepatitis C, Infeksi Bisu yang Mengancam satu dari sepuluh warga Indonesia

0
447
Dr. Irsan Hasan, SpPD, KGEH selaku Ketua umum perhimpunan peneliti hati Indonesia (PPHI) memberikan pemaparan terkait Hepaitis C (Dok.Kuldesak)
- Advertisement -

Kuldesak- Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 prevalensi orang yang terinfeksi hepatitis C 2,5% atau sekitar 5 juta orang. Sehingga, berdasarkan data tersebut di atas sudah selayaknya permasalahan Hepatitis C menjadi perhatian pemerintah dan juga masyarakat umum. Indonesia pun masuk dalam negara yang ikut menjadi bagian dalam penyusunan rencana aksi dan strategi badan kesehatan dunia wilayah Asia Tenggara (SEARO) yang untuk mengeliminasi hepatitis C di tahun 2030.

Ketua Umum Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Irsan Hasan menjelaskan bahwa penyakit Hepatitis C tidak menimbulkan gejala khusus hingga pengidap masuk dalam fase kronis, sehingga dikenal sebagai ‘Silent Killer’.

“10 masyarakat Indonesia 1 orang terinfeksi hepatitis C. Tanpa gejala khusus, masyarakat tidak akan tahu dan tidak sadar jika dirinya terjangkit virus Hepatitis C jika tidak melakukan screening atau tes di labotarium,” jelasnya, dalam pelatihan tentang Hepatitis C yang dihelat oleh Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), di Bogor, hari Jumat (3/11/17).

“Pasien yang datang rata-rata kasus infeksi hepatitis terdeteksi setelah mengalami infeksi kronis dan berakhir dengan sirosis (pembentukan Jaringan keras) hati,” ujarnya lebih lanjut.

Hal ini sangat beralasan karena 80 persen kasus hepatitis C tidak menunjukkan gejala apa-apa lantaran hati tidaklah memiliki saraf.

Hal senada juga diutarakan oleh Arif Irawan selaku Program Manager Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). Menurutnya masih banyak masyarakat di Indonesia yang belum menyadari akan bahaya penyakit Hepatitis C yang tingkat resikonya melebihi Human Imunodeficiency Virus (HIV).

“Kondisi Hepatitis C ini serupa dengan yang dialami oleh masyarakat Indonesia beberapa tahun silam. Bukan hanya sulit untuk di deteksi obatnya pun langka dan mahal. Untuk melakukan tes RNA (Asam Ribonukleat) dananya bisa mencapai Rp 2,5 juta, belum lagi obatnya yang sangat mahal” ujarnya.

Sementara itu Kepala Seksi Hepatitis Subdit Hepatitis dan Infeksi Saluran Pencernaan pada Kemenkes RI, Dr Regina T Sidjabat mengatakan bahwa hepatitis C bisa dikatakan sebagai penyakit yang terlupakan dibanding hiv dan malaria yang memiliki anggaran yang terdanai.

“hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat, hepatitis ini bukan program prioritas nasional, obat yang kami beri ini hanya transisi jadi tidak seperti hiv yang tercover program,” Ungkap Regina.

Regina juga mengatakan bahwa pihaknya ingin obat-obat ini masuk ke dalam bpjs sehingga pasien hepatitis tidak harus membeli obat. “kita sedang mendorong agar Sofosbuvir, Simeprefir, Ribavirin ke dalam formularium Nasional, saat ini ada 6000 paket penggobatan gratis yang ada di enam provinsi.”katanya.

Lebih lanjut, Regina menuturkan bahwa enam provinsi ini populasi resikonya paling tinggi sehingga enam provinsi ini diprioritaskan. “Dan kita juga sudah mengadakan repeat test di beberapa daerah untuk melakukan pemeriksaan hepatitis C,” tuturnya.

Perlu diketahui, Virus Hepatitis C telah menjadi salah satu penyebab utama penyakit hati kronik di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia memperkirakan ada 71 juta orang di dunia yang terinfeksi hepatitis C kronis. dan 10 juta orang di antaranya tinggal di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Virus Hepatitis menyebabkan lebih dari 1 juta kematian pada tahun 2015. Angka ini serupa dengan kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis (TB) dan lebih tinggi dari kematian terkait HIV. Namun, jumlah kematian terkait virus Hepatitis meningkat dari waktu ke waktu sementara kematian terkait TB dan HIV menurun.

Karena itulah perlu adanya pemahaman yang baik dengan merangkul mitra media agar tersebar luasnya informasi tentang Hepatitis C dasar serta akses program pengobatan Hepatitis C menggunakan DAA di Indonesia. Serta terpaparnya informasi mengenai pengobatan Hepatitis C menggunakan DAA sekaligus rencana program pengobatan Hepatitis C yang menggunakan DAA.  (ACS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here