19 Tahun Bersahabat Di Kota Cerdas Dan Berbudaya

0
500
- Advertisement -

Metropolitan adalah sebutanmu sekarang, jarak yang tak jauh dari Ibukota negara. Walaupun usiamu masih remaja menjelang dewasa, pertumbuhanmu sangat cepat, sehingga proses urbanisasipun tak bisa dibendung lagi. Sang pencakar langit sudah banyak tumbuh dihalamanmu yang dulu hijau dan sekarangpun kau lebih berwarna dengan cahayamu. Sejak terlahir dirimu sudah belajar dan semakin pintar karena adanya Lembaga Pendidikan bernama Universitas Indonesia yang mencetak para pemikir canggih. Diakhir tahun 1970 sampai memasuki awal tahun 1990 dirimu masih sering disebut orang daerah tempat “Jin buang anak”.

 

Pertumbuhan awal ekonomi dan aspek lainnya terlihat memang sejak kampus berjaket kuning itu berdiri kokoh, sehingga masyarakatnya yang dulu banyak bertani dan berkebun berpindah profesi menjadi juragan rumah kos khususnya dijalan Margonda yang sekarang menjadi jantungnya. Dunia Pendidikan menjadi salah satu pencetus kaum urban datang kekota ini, dan kampus swastapun tak mau kalah berdiri, yang seakan-akan kota ini menjadi salah satu kota pelajar. Orang Depok mempunyai Bahasa dan adat kebanyakan sebagai orang Betawi, campuran dari beberapa etnis seperti Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa, layaknya gado-gado salah satu makanan khas Betawi.

 

Jika bicara sejarah lebih kebelakang lagi tepatnya pada masa kerajaan Pajajaran (1030-1579 M) wilayah Depok berasal dari kata DEPROK (duduk santai ala melayu), penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di Kawasan Beji dan men-deprok dikawasan yang tak jauh dari Sungai Ciliwung. Tak luput masa Kesultanan Banten, Sultan Agung Tirtayasa dan Pangeran Purba ketika melakukan perjalanan ke Cirebon, jalur yang dilewati juga Kawasan Depok dan sempat menetap di Beji, ada satu pengikut Pangeran Purba yaitu Raden Wujud yang tidak melanjutkan perjalanannya ke Cirebon dan menetap hingga membuat PADEPOKAN (tempat Pendidikan dan pelatihan) untuk menyebarkan agama islam. Padepokan yang dibangun Embah Raden Wujud setelah menetap lama terbentuklah seperti sebuah perkampungan, dan Kesultanan Bantenpun menyebut wilayah itu sebagai DEPOK atau PADEPOKAN. Tak mau kalah bangsa Eropa tepatnya Belanda melalui kongsi dagangnya VOC dengan utusan pejabatnya bernama Cornelis Chastelein telah membeli lahan di Mampang dan Depok lama yang dipergunakan untuk perkebunan, bisa dilihat dilaporan ekspedisinya Abraham van Riebeek (1730) bahwa kata Depok bukan berasal dari Bahasa asing, tetapi lebih mungkin Bahasa Sunda atau Jawa. Dalam Bahasa Sunda Depok berarti duduk.

 

Sejarah memang tidak boleh dilupakan, lihat sekarang, Depok diera zaman milenial sudah  berwujud seperti kota besar yang mandiri, didalamnya adalah kumpulan dari gedung kampus, apartemen dan merebaknya pusat perbelanjaan modern. Efek baik memang banyak dirasakan dalam denyut kehidupan masyarakat Kota Depok, tapi permasalahanpun tak kunjung selesai disudahi, melihat warga Depok asli yang harus bertanding dengan para pendatang yang seakan menjadi pemain inti. Depok memang terlihat bersahabat kepada siapapun yang menetap disini sehingga arus kotorpun kadang sudah dianggap biasa, teroris, bandar narkoba, penjual miras oplosan, pelaku pesta seks remaja dan dewasa yang berlainan jenis dan sejenis hingga begalpun senang menetap disini. Kita semua tahu orang Depok itu sangat relijius dalam beribadah, tergambar dari banyak berdirinya pesantren, majelis-majelis pengajian, masjid dan rumah ibadah agama lainnya, sifat gotong royong dan guyup masyarakatnya juga masih terasa kental sampai saat ini.

 

Pekerjaan rumah besar menanti Pemerintah dan masyarakat Depok dalam menata kotanya agar arus kotor yang hadir disini dapat kita bendung dan minimalisir dari perbuatan-perbuatan yang membuat akhlak kita menjadi bengkok. Sehingga untuk wujudkan cita-cita kita bersama  Menuju Kota yang Unggul Pelayanannya, Nyaman Lingkungannya, Religius Masyarakatnya secara Bersama atau kolaborasi dapat terwujud.

 

Selamat ulang tahun Kota Depok tercinta yang ke-19. (0mbudz)

 

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Depok

https://www.depok.go.id/16/03/2018/01-berita-depok/logo-dan-tema-hari-jadi-ke-19-kota-depok-tahun-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here